Teknik-Teknik Pembelajaran
TEKNIK – TEKNIK PEMBELAJARAN
PEMBELAJARAN
INKUIRI
Metode inkuiri adalah metode pembelajaran dimana siswa dituntut untuk lebih
aktif dalam proses penemuan, penempatan siswa lebih banyak belajar sendiri
serta mengembangkan keaktifan dalam memecahkan masalah.
Metode Inquiry yaitu sebuah
metode pembelajaran dimana guru berusaha mengarahkan siswa untuk mampu
menyadari apa yang sudah didapatkan selama belajar. Sehingga siswa mampu
berfikir dan terlibat dalam kegiatan intelektual dan memproses pengalaman
belajar itu menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan nyata.
Menurut piaget (mulyasa,
2008:108) bahwa model pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran yang
mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas
agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan
penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang
ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain.
Dengan melihat kedua pendapat di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inquiry adalah model
pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen
sendiri sehingga dapat berpikir secara kritis untuk mencari dan menemukan
jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Pembelajaran inkuiri banyak
dipengaruhi oleh aliran belajar kognitif, menurut aliran ini belajar pada
hakikatnya adalah proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan segala
potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal.
Langkah – langkah pembelajaran inkuiri :
a. Menyajikan
pertanyaan atau masalah: Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan
masalah dituliskan di papan. Guru membagi siswa dalam kelompok.
b. Membuat
hipotesis: Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk
hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan
dengan permasalahan dan memproiritaskan hipotesis mana yang menjadi
prioritas penyelidikan.
c. Merancang
percobaan Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah
yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa
mengurutkan langkah-langkah percobaan.
d. Mengumpulkan
dan menganilisis data: Guru memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk
menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.
e. Membuat
kesimpulan: Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan.
PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
Metode kontruktivisme adalah bahwa
belajar itu menemukan. Meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa mereka
melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu masuk ke dalam
pemahaman mereka. Konsrtruktivisme dimulai dari masalah (sering muncul dari
siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan
langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. Metode
konstruktivisme ditekankan pada siswa seharusnya diberi tugas-tugas
kompleks, sulit, dan realistis. Kemudian mereka diberi bantuan secukupnya untuk
menyelesaikan tugas. Tugas kompleks itu misalnya proyek, simulasi, menulis
untuk dipresentasikan.
Pendekatan konstruktivisme
merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun
dalam pemikiran pelajar. Pengetahuan dikembangkan secara aktif oleh pelajar itu
sendiri dan tidak diterima secara pasif dari orang disekitarnya. Hal ini
bermakna bahwa pembelajaran merupakan hasil dari usaha pelajar itu sendiri dan
bukan hanya ditransfer dari guru kepada pelajar. Hal tersebut berarti siswa
tidak lagi berpegang pada konsep pengajaran dan pembelajaran yang lama,
dimana guru hanya menuangkan atau mentransfer ilmu kepada siswa tanpa adanya
usaha terlebih dahulu dari siswa itu sendiri.
Di dalam kelas konstruktivisme,
para siswa diberdayakan oleh pengetahuannya yang berada dalam diri mereka.
Mereka berbagi strategi dan penyelesaian, debat antara satu dengan lainnya,
berpikir secara kritis tentang cara terbaik menyelesaikan setiap masalah. Dalam
kelas konstruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anaknya bagaimana
menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan mendorong
(encourage) siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan
permasalahan. Pada saat siswa memberikan jawaban, guru mencoba untuk tidak
mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak benar. Namun guru mendorong siswa
untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar
ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akal siswa (dalam
Suherman, 2003)
Langkah – langkah pembelajaran konstruktivisme :
a. Tahapan
pertama adalah apersepsi, pada tahap ini dilakukan kegiatan menghubungkan
konsepsi awal, mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan dari materi sebelumnya yang
merupakan konsep prasyarat. Misalnya : mengapa baling-baling dapat berputar?
b. Tahap kedua
adalah eksplorasi, pada tahap ini siswa mengungkapkan dugaan sementara terhadap
konsep yang mau dipalajari. Kemudian siswa menggali menyelidiki dan menemukan
sendiri konsep sebagai jawaban dari dugaan sementara yang dikemukakan pada
tahap sebelumnya, melalui manipulasi benda langsung.
c. Tahap ketiga,
diskusi dan penjelasan konsep, pada tahap ini siswa mengkomunikasikan hasil
penyelidikan dan tamuannya, pada tahap ini pula guru menjadi fasilitator dalam
menampung dan membantu siswa membuat kesepakatan kelas, yaitu setuju atau tidak
dengan pendapat kelompok lain serta memotifasi siswa mengungkapkan alasan dari
kesepakatan tersebut melalui kegiatan tanya jawab.
d. Tahap
keempat, pengembangan dan aplikasi, pada tahap ini guru memberikan penekanan
terhadap konsep-konsep esensial, kamudian siswa membuat kesimpulan melalui
bimbingan guru dan menerapkan pemahaman konseptual yang telah diperoleh melalui
pembelajaran saat itu melalui pengerjaan tugas.
PEMBELAJARAN
SETS
Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) dalam
bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan saling temas yang merupakan sains,
lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Asyari (dalam Tristanti, 2011:12)
mengartikan pendekatan SETS sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran sains
yang mengaitkan dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat sekitar.
Pendekatan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sains,
perkembangan dan aplikasi konsep sains dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan
ini membahas tentang hal-hal yang bersifat nyata, yang dapat dipahami, dapat
dibahas, dan dapat dilihat.
Definisi SETS menurut the NSTA
Position Statement 1990 (dalam Kuswati, 2004:11) adalah memusatkan permasalahan
dari dunia nyata yang memiliki komponen Sains dan Teknologi dari perspektif
siswa, di dalamnya terdapat konsep-konsep dan proses, selanjutnya siswa diajak
untuk menginvestigasi, menganalisis, dan menerapkan konsep dan proses itu pada
situasi yang nyata.
Urutan ringkasan SETS membawa
pesan bahwa untuk menggunakan sains (S-pertama) ke bentuk teknologi (T) dalam
memenuhi kebutuhan masyarakat (S-kedua) diperlukan pemikiran tentang berbagai
implikasinya pada lingkungan (E) secara fisik maupun mental. Pendekatan
Salingtemas secara mendasar dapat dinyatakan bahwa melalui pendidikan
Salingtemas ini diharapkan agar siswa dapat mengetahui tiap-tiap unsur
salingtemas dan juga memahami implikasi antar hubungan elemen-elemen
unsur-unsurnya. Selain itu, Salingtemas akan membimbing siswa agar berpikir
secara global/ keseluruhan dan bertindak memecahkan masalah lingkungan, baik
lingkungan lokal maupun hubungan lingkungan dengan segala sesuatu yang
berkaitan dengan masyarakat dan berperan serta dalam pemecahan masalah internasional
sesuai kapasitasnya (Binadja, 2005:2).
Pengertian tersebut hampir sama
dengan yang dinyatakan dalam Depdiknas (2002:5) bahwa dengan pendekatan
Salingtemas/ SETS siswa dikondisikan agar mau dan mampu menerapkan prinsip
sains untuk menghasilkan karya teknologi diikuti dengan pemikiran untuk mengurangi
atau mencegah kemungkinan dampak negatif yang mungkin timbul dari munculnya
produk teknologi ini terhadap lingkungan dan masyarakat
Langkah – langkah pembelajaran SETS :
a. Tahap invitasi
Pada tahap
ini guru memberikan isu/ masalah aktual yang sedang berkembang di masyarakat
sekitar yang dapat dipahami peserta didik dan dapat merangsang siswa untuk
mengatasinya. Guru juga bisa menggali pendapat dari siswa, yang ada kaitannya
dengan materi yang akan dibahas.
b. Tahap eksplorasi
Pada tahap ini, guru dan siswa mengidentifikasi daerah kritis penyelidikan. Data-data dan informasi dapat dikumpulkan melalui pertanyaan-pertanyaan atau wawancara, kemudian menganalisis informasi tersebut. Data dan informasi dapat pula diperoleh melalui telekomunikasi, perpustakaan dan sumber-sumber dokumen publik lainnya. Dari sumber-sumber informasi, siswa dapat mengembangkan penyelidikan berbasis ilmu pengetahuan untuk menyelidiki isu-isu yang berkaitan dengan masalah ini. Pemahaman tentang hujan asam, misalnya, dilakukan dalam laboratorium untuk menyelidiki sifat -sifat asam dan basa. Penyelidikan ini memberikan pemahaman dasar untuk pengembangan, pengujian hipotesis, dan mengusulkan tindakan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).
Menurut Aisyah (2007), tahap kedua ini merupakan proses pembentukan konsep yang dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan keterampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, metode demonstrasi, eksperimen di labolatorium, diskusi kelompok, bermain peran dan lain-lain. Pada akhir tahap kedua, diharapkan melalui konstruksi dan rekonstruksi siswa menemukan konsep-konsep yang benar atau konsep-konsep para ilmuan. Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar siswa melanjutkan analisis isu atau masalah yang disebut aplikasi konsep dalam kehidupan.
Pada tahap ini, guru dan siswa mengidentifikasi daerah kritis penyelidikan. Data-data dan informasi dapat dikumpulkan melalui pertanyaan-pertanyaan atau wawancara, kemudian menganalisis informasi tersebut. Data dan informasi dapat pula diperoleh melalui telekomunikasi, perpustakaan dan sumber-sumber dokumen publik lainnya. Dari sumber-sumber informasi, siswa dapat mengembangkan penyelidikan berbasis ilmu pengetahuan untuk menyelidiki isu-isu yang berkaitan dengan masalah ini. Pemahaman tentang hujan asam, misalnya, dilakukan dalam laboratorium untuk menyelidiki sifat -sifat asam dan basa. Penyelidikan ini memberikan pemahaman dasar untuk pengembangan, pengujian hipotesis, dan mengusulkan tindakan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).
Menurut Aisyah (2007), tahap kedua ini merupakan proses pembentukan konsep yang dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan keterampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, metode demonstrasi, eksperimen di labolatorium, diskusi kelompok, bermain peran dan lain-lain. Pada akhir tahap kedua, diharapkan melalui konstruksi dan rekonstruksi siswa menemukan konsep-konsep yang benar atau konsep-konsep para ilmuan. Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar siswa melanjutkan analisis isu atau masalah yang disebut aplikasi konsep dalam kehidupan.
c. Tahap solusi
Pada tahap ini, siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelumnya dalam penyelidikan. Proses ini termasuk komunikasi lebih lanjut dengan para ahli di lapangan, pengembangan lebih lanjut, memperbaiki, dan menguji hipotesis mereka, dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan. Hasil tersebut kemudian dilaporkan dan disajikan kepada rekan -rekan kelas untuk menggambarkan temuan, posisi yang diambil, dan tindakan yang diusulkan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).
Menurut Aisyah (2007), apabila selama proses pembentukan konsep dalam tahap ini tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah, guru tetap harus melakukan pemantapan konsep melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang penting diketahui dalam bahan kajian tertentu. Hal ini dilakukan karena konsep–konsep kunci yang ditekankan pada akhir pembelajaran akan memiliki retensi lebih lama dibandingkan dengan kalau tidak dimantapkan atau ditekankan oleh guru pada akhir pembelajaran.
Pada tahap ini, siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelumnya dalam penyelidikan. Proses ini termasuk komunikasi lebih lanjut dengan para ahli di lapangan, pengembangan lebih lanjut, memperbaiki, dan menguji hipotesis mereka, dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan. Hasil tersebut kemudian dilaporkan dan disajikan kepada rekan -rekan kelas untuk menggambarkan temuan, posisi yang diambil, dan tindakan yang diusulkan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).
Menurut Aisyah (2007), apabila selama proses pembentukan konsep dalam tahap ini tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah, guru tetap harus melakukan pemantapan konsep melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang penting diketahui dalam bahan kajian tertentu. Hal ini dilakukan karena konsep–konsep kunci yang ditekankan pada akhir pembelajaran akan memiliki retensi lebih lama dibandingkan dengan kalau tidak dimantapkan atau ditekankan oleh guru pada akhir pembelajaran.
d. Tahap aplikasi
Siswa diberi kesempatan untuk menggunakan konsep yang telah diperoleh. Dalam hal ini siswa mengadakan aksi nyata dalam mengatasi masalah yang muncul dalam tahap invitasi.
Siswa diberi kesempatan untuk menggunakan konsep yang telah diperoleh. Dalam hal ini siswa mengadakan aksi nyata dalam mengatasi masalah yang muncul dalam tahap invitasi.
e. Tahap pemantapan konsep
Guru memberikan umpan balik/ penguatan terhadap konsep yang diperoleh siswa.
Guru memberikan umpan balik/ penguatan terhadap konsep yang diperoleh siswa.
PEMBELAJARAN
PEMECAHAN MASALAH
Metode pemecahan masalah adalah
suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong peserta didik untuk mencari
dan memecahkan suatu masalah/persoalan dalam rangka pencapaian tujuan
pengajaran. Metode ini diciptakan seorang ahli didik berkebangsaan Amerika yang
bernama Jhon Dewey. Metode ini dinamakan ProblemMethod. Sedangkan Crow&Crow
dalam bukunya Human Developmentand Learning, mengemukakan nama metode ini
dengan Problem SolvingMethod.
Metode pemecahan masalah adalah
suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong peserta didik untuk mencari
dan memecahkan suatu masalah/persoalan dalam rangka pencapaian tujuan
pengajaran. Metode ini diciptakan seorang ahli didik berkebangsaan Amerika yang
bernama Jhon Dewey. Metode ini dinamakan Problem Method. Sedangkan
Crow&Crow dalam bukunya Human Development and Learning, mengemukakan nama
metode ini dengan Problem Solving Method.
Sebagai prinsip dasar dalam
metode ini adalah perlunya aktifitas dalam mempelajari sesuatu. Timbulnya
aktifitas peserta didik kalau sekiranya guru menjelaskan manfaat bahan
pelajaran bagi peserta didik dan masyarakat.
Dalam bukunya “school and
society” John Dewey mengemukakan bahwa keaktifan peserta didik di sekolah harus
bermakna artinya keaktifan yang disesuaikan dengan pekerjaan yang biasa
dilakukan dalam masyarakat.Alasan penggunaan metode problem solving bagi
peneliti adalah dengan penggunaan metode problem solving siswa dapat bekerja
dan berpikir sendiri dengan demikian siswa akan dapat mengingat pelajarannya
dari pada hanya mendengarkan saja.
DISKUSI
Metode diskusi dalam belajar
adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana guru memberikan
kesempatan kepada para siswa/ kelompok-kelompok siswa yang mengadakan
pembicaraan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun
berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah.
Forum diskusi dapat diikuti oleh
seluruh siswa di dalam kelas, dapat pula dibentuk kelompok-kelompok kecil. Yang
perlu diperhatikan adalan hendaknya para siswa berpartisipasi secara aktif
dalam setiap forum diskusi. Semakin banyak siswa terlibat dan menyumbangkan
pikirannnya, semakin banyak pula yang dapat mereka pelajari. Perlu pula
diperhatikan peran guru. Apabila campur tangan dan main perintah dari guru,
niscaya siswa tidak akan dapat belajar banyak.
Langkah–langkah pembelajaran pemecahan
masalah :
a. Bahan-bahan
yang akan dibahas terlebih dahulu disiapkan oleh guru.
b. Guru
menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan sebagai bahan pembantu dalam memecahkan
persoalan.
c. Guru
memberikan gambaran secara umum tentang cara-cara pelaksanaannya.
d. Problem yang disajikan
hendaknya jelas dapat merangsang peserta didik untuk berpikir.
e. Problem harus
bersifat praktis dan sesuai dengan kemampuan peserta didik
f. Guru
menjelaskan secara umum tentang masalah yang dipecahkan.
g. Guru meminta
kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan tentang tugas yang akan
dilaksanakan.
h. Peserta didik
dapat bekerja secara individual atau berkelompok.
i.
Mungkin peserta didik dapat menemukan pemecahannya dan mungkin pula tidak.
j.
Kalau pemecahannya tidak ditemukan oleh peserta didik kemudian didiskusikan
mengapa pemecahannya tak ditemui.
k. Pemecahan
masalah dapat dilaksanakan dengan pikiran.
l.
Data diusahakan mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk analisa sehingga
dijadikan fakta.
m. Membuat kesimpulan.
PEMBELAJARAN
DISKUSI
Diskusi adalah aktivitas dari sekelompok siswa, berbicara saling bertukar
informasi maupun pendapat tentang sebuah topik atau masalah, dimana setiap anak
ingin mencari jawaban / penyelesaian problem dari segala segi dan kemungkinan
yang ada.
Metode diskusi dalam belajar
adalah suatu cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana guru memberikan
kesempatan kepada para siswa/ kelompok-kelompok siswa yang mengadakan
pembicaraan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun
berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah.
Forum diskusi dapat diikuti oleh
seluruh siswa di dalam kelas, dapat pula dibentuk kelompok-kelompok kecil. Yang
perlu diperhatikan adalan hendaknya para siswa berpartisipasi secara aktif
dalam setiap forum diskusi. Semakin banyak siswa terlibat dan menyumbangkan
pikirannnya, semakin banyak pula yang dapat mereka pelajari. Perlu pula
diperhatikan peran guru. Apabila campur tangan dan main perintah dari guru,
niscaya siswa tidak akan dapat belajar banyak.
Langkah – langkah pembelajaran diskusi :
a. Memilih dan
menetapkan topik atau tema sekurang-kurangnya: mengidentifikasi masalah yang
merupakan alternative untuk dipilih dan didiskusikan.
b. Mengidentifikasi
dan menetapkan satu atau beberapa sumber bahan bacaan atau informasi yang
hendak dipelajari oleh siswa, sehingga kalau memasuki arena diskusi
diharapkan telah membawa bahan pemikiran.
c. Menetapkan
atau menyediakan alternatif komposisi dan struktur komonikasi kelompok
diskusi.
d. Menetapkan
atau menyediakan alternatif pemimpin diskusi pada guru atau siswa.
PEMBELAJARAN
TANYA JAWAB
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan
yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula
dari siswa kepada guru. Metode tanya
jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus
dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa
kepada guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudirman (1987:120) yang
mengartikan bahwa “metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran
dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada
siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.”
Lebih lanjut dijelaskan
pula oleh Sudirman (1987:119) menyatakan bahwa metode tanya jawab ini
dapat dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi siswa untuk mengadakan
penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada berbagai sumber belajar
seperti buku, majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video,
masyarakat, alam, dan sebagainya
Langkah – langkah pembelajaran tanya jawab :
a. Merumuskan
tujuan tanyajawab sejelas-jelasnya dalam bentuk tujuan khusus dan
berpusat pada tingkah laku siswa.
Mencari alasan pemilihan metodetanyajawab.
Mencari alasan pemilihan metodetanyajawab.
b. Menetapkan
kemungkinan pertanyaan yang akan dikemukakan.
c. Menetapkan
kemungkinan jawaban untuk menjaga agar tidak menyimpang dari pokok persoalan.
d. Menyediakan
kesempatan bertanya bagi siswa.
PEMBELAJARAN
PENUGASAN
Metode Penugasan atau metode pemberian tugas adalah cara dalam proses
belajar mengajar dengan jalan memberi tugas kepada
siswa. Tugas-tugas itu dapat berupa mengikhtisarkan
karangan, (dari surat kabar, majalah atau buku
bacaan) membuat kliping, mengumpulkan gambar, perangko, dan dapat pula
menyusun karangan.
Salah satu metode yang digunakan
dalam pembelajaran adalah metode resitasi terstruktur. Imansjah Alipandie
(1984:91) dalam bukunya yang berjudul “Didaktik Metodik Pendidikan Umum”
mengemukakan bahwa :”Metode resitasi terstruktur adalah cara untuk mengajar yang
dilakukan dengan jalan memberi tugas khusus kepada siswa untuk mengerjakan
sesuatu di luar jam pelajaran. Pelaksanaannya bisa dirumah, diperpustakaan,
dilaboratorium, dan hasilnya dipertanggungjawabkan.”
Menurud Sudirman. N, (1991:141).
Pengertian metode penugasan/ resitasi adalah cara penyajian bahan
pelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan
belajar.
Sedangkan Slameto (1990:115)
mengemukakan :Metode resitasi terstruktur adalah cara penyampaian bahan
pelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan dalam rentangan
waktu tertentu dan hasilnya harus dipertanggungjawabkan kepada guru.
Metode resitasi terstruktur
merupakan salah satu pilihan metode mengajar seorang guru, dimana guru
memberikan sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan di luar jam
pelajaran. Pemberian item tes ini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan
belajar mengajar di kelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan di
kelas.
Pemberian tugas ini merupakan
salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan
pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang
harus disampaikan sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas.
Dengan banyaknya kegiatan pendidikan di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu
dan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa utnuk melaksanakan
kegiatan belajar mengajar tersebut. Rostiyah (1991:32) menyatakan bahwa untuk
mengatasi keadaan seperti diatas, guru perlu memberikan tugas-tugas diluar jam
pelajaran. Sumiati Side (1984:46) menyatakan bahwa pemberian tugas-tugas berupa
PR mempunyai pengaruh yang positif terhadap peningkatan prestasi belajar Bahasa
Indonesia.
Langkah – langkah pembelajaran penugasan :
a. Rumuskan
permasalahannya dengan jelas.
b. Lakukan
pembagian tugas serta deskripsikan masing-masing tugas itu.
c. Buat jadwal
kegiatan sesuai dengan waktu yang disediakan.
d. Rumuskan apa
yang diharapkan untuk dicapai dari setiap kegiatan.
e. Buat
kesimpulan menyeluruh.
f. Usahakan agar
hasil dari tugas itu dapat meningkatkan keterampilan dan diketahui banyak orang.
PEMBELAJARAN DEMONSTRASI
Metode demonstrasi adalah metode
mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan
melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media
pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah
(1996 : 102), mengatakan bahwa metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan
pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses,
situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik yang sebenarnya maupun
tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan. Dengan metode
demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan
secara mendalam sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna.
Tujuan pokok penggunaan metode
demonstrasi dalam proses belajar mengajar ialah untuk memperjelas pengertian
konsep dan memperlihatkan (meneladani) cara melakukannya sesuatu atau proses
terjadinya sesuatu. Ditinjau dari bukan metode yang dapat diimplementasikan
dalam PBM secara independent. Karena ia merupakan alat bantu memperjelas
apa-apa yang diuraikan, baik verbal maupun secara tekstual. Jadi, mengajar
tertentu seperti metode ceramah.
Ada asumsi psikologis yang
melatarbelakangi perlunya penggunaan penggunaan metode demonstrasi dalam PBM,
yakni belajar adalah proses melakukan dan mengalami sendiri (learning by doing
and eksperience) apa-apa yang dipelajari. Dengan melakukan dan mengalami
sendiri, siswa diharapkan dapat menyerap kesan yang mendalam kedalam benaknya.
Langkah – langkah pembelajaran demonstrasi :
a. Perencanaan
Hal yang
dilakukan adalah:
·
Merumuskan tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang
diharapkan dapat ditempuh setelah metode demonstrasi berakhir.
·
Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan
dilaksanakan.
·
Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan.
·
Selama demonstrasi berlangsung, seorang guru hendaknya introspeksi diri
apakah:
·
Keterangan-keterangannya dapat didengar dengan jelas oleh peserta didik.
·
Semua media yang digunakan ditempatkan pada posisi yang baik sehingga
setiap peserta didik dapat melihat.
·
Peserta didik disarankan membuat catatan yang dianggap perlu.
·
Menetapkan rencana penilaian terhadap kemampuan peserta didik.
b. Pelaksanaan
Hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
Hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
·
Memeriksa hal-hal di atas untuk kesekian kalinya.
·
Memulai demonstrasi dengan menarik perhatian peserta didik.
·
Mengingat pokok-pokok materi yang akan didemonstrasikan agar demonstrasi
mencapai sasaran.
·
Memperhatikan keadaan peserta didik, apakah semuanya mengikuti demonstrasi
dengan baik.
·
Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif memikirkan lebih
lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarnya dalam bentuk mengajukan
pertanyaan.
·
Menghindari ketegangan, oleh karena itu guru hendaknya selalu menciptakan
suasana yang harmonis.
c. Evaluasi
Sebagai tindak lanjut setelah diadakannya demonstrasi sering diiringi dengan kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya. Kegiatan ini dapat berupa pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebih lanjut. Selain itu, guru dan peserta didik mengadakan evaluasi terhadap demonstrasi yang dilakukan, apakah sudah berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan.
Sebagai tindak lanjut setelah diadakannya demonstrasi sering diiringi dengan kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya. Kegiatan ini dapat berupa pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebih lanjut. Selain itu, guru dan peserta didik mengadakan evaluasi terhadap demonstrasi yang dilakukan, apakah sudah berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan.
PEMBELAJARAN
KARYA ILMIAH
Metode ilmiah adalah langkah langkah yang ditempuh oleh peneliti dalam
menjawab pertanyaan pertanyaan atas masalah masalah dan keingintahuan nya
terhadap fenomena fenomena yang terjadi sehingga dihasilkan jawaban yang akurat
dan obyektif sehingga mampu diterima secara universal dan dianggap valid.
Langkah – langkah pembelajaran karya ilmiah :
a.
Melakukan identifikasi masalah
b.
Mengumpulkan data dalam cakupan
masalah
c.
Memilah data untuk mencari
korelasi, hubungan yang bermakna dan keteraturan
d.
Merumuskan hipotesis (suatu
generalisasi) yang merupakan tebakan ilmiah yang menjelaskan data data yang ada
dan menyarankan langkah langkah berikutnya yang harus dilakukan untuk
penelitian yang lebih lanjut
e.
Menguji hipotesis secara setepat
mungkin dengan cara mengumpulkan data data baru
f.
Melakukan konfirmasi, modifikasi
ataupun menolak hipotesis apabila memperoleh temuan temuan baru.
Komentar
Posting Komentar